![]() |
Salah satu suku bajo memburu seekor gurita Foto: @Kuark instagram |
LIDIKPost.com- Suku Bajo memiliki karakteristik kemaritiman yang cukup kental. Saat ini mereka tersebar di beberapa wilayah perairan Sulawesi, Kalimantan Timur, Maluku Utara, Nusa Tenggara, hingga ke pantai timur Sabah (Malaysia) dan Kepulauan Sulu (Filipina).
Orang Bajo di kehidupan nyata dikenal kuat berenang dan menyelam dalam waktu panjang tanpa bantuan alat oksigen dan perlengkapan menyelam untuk mencari ikan.
Penelitian Melissa Ilardo dkk menemukan para pengembara laut ini memiliki limpa yang telah mengalami adaptasi genetik dan fisiologis lewat seleksi alam. Ini membuat mereka memiliki penampungan oksigen yang lebih maksimal untuk menyelam dibandingkan kebanyakan manusia , seperti dikutip dari Physiological and Genetic Adaptations to Diving in Sea Nomads.
Dikutip dari CNBC Dalam film Avatar 2 berjudul The Way of Water sutradara James Cameron menuturkan, budaya dan arsitektur khas orang Bajo tersebut dihadirkan dalam sosok Suku Metkayina, salah satu suku Na'vi atau Avatar 2 yang mendiami laut Pandora.
"Ada orang laut di Indonesia (Bajo) yang hidup di rumah panggung (di laut) dan di atas rakit dan semacamnya. Kami melihat hal-hal seperti itu, dan kami melihat beberapa desa berbeda dengan way of water (jalur air) yang menggunakan arsitektur pepohonan lokal," kata Cameron dalam The Science Behind James Cameron's Avatar: The Way of Water di kanal YouTube National Geographic.
Suku Bajo, juga dikenal sebagai suku pengembara laut terbesar yang tersisa di pulau-pulau Asia Tenggara.
Orang suku Bajo mendirikan rumah di tepian pantai atau diatas perairan laut dangkal yang dipasangi tiang pancang agar terhindar dari gelombang pasang.
Orang Bajo terkadang menetap dan menikah dengan orang lokal. Kebiasaan ini disebut kreolisasi maritim, yakni proses orang Bajo mempertahankan budaya sambil berasimilasi dengan budaya setempat. (*)